cerita dewasa

ABG Seksi Bercinta Dengan Om om

Nuri yang konon katanya memiliki Memek yang masih sempit dan memiliki kemampuan empotan yang dahsyat. Sementara Fifine ngentot sama Erick.Yuk ah, Kita lanjut!
Aku masuk ke ruangan dimana Fifine ada di kamar mandi dan terdengar suara shower dikamar mandi meyala. Aku bisa mendengarnya karena pintu kamar mandi tidak ditutup. Tak lama kemudian, shower terdengar berhenti dan Fifine keluar hanya mengenakan kancut dan tidak berbra. Ganti aku yg masuk ke kamar mandi, aku hanya membersihkan tubuhku. Keluar dari kamar mandi, Fifine berbaring diranjang dengan bertelanjang dada.
Kenapa Fin, lemes ya di Entot Erick, kataku.

Lebih enak ngentot sama om, kontol om lebih besar dan keras, jawab Fifine seraya mengecup kontol ku yang memang sengaja kubiarkan terbuka.

Malem ini kita ngentot lagi ya om. Hebat banget Fifine, gak ada matinya. Pengennya di Entot terus.

Ok aja, tapi sekarang kita cari makan dulu ya, biar ada tenaga ngentot lagi nanti malem sampe Fifinie pingsan, candaku sambil berpakaian.

Fifine pun mengenakan pakaiannya dan kita pergi mencari makan malem. Kembali ke rumah sudah hampir tengah malem, tadi kita selain makanmakan juga dugeman dulu.

Di kamar kita langsung melepas pakaian masingmasing dan bergumul diranjang. Tangan Fifine bergerak menggenggam kontol ku. Aku melenguh seraya menyebut namanya. Aku meringis menahan remasan lembut tangannya pada kontol ku. Fifine mulai bergerak turun naik menyusuri kontol ku yang sudah teramat keras. Sekalisekali ujung telunjuknya mengusap kepala kontol ku yang sudah licin oleh cairan yang meleleh dari liangnya. Kembali aku melenguh merasakan ngilu akibat usapannya. Kocokannya semakin cepat.

Dengan lembut aku mulai meremasremas payudaranya. Tangan Fifine menggenggam kontol ku dengan erat. Putingnya kupilin2. Fifine masukan kontol ku kedalam mulutnya dan mengulumnya. Aku terus menggerayang payudaranya, dan mulai menciumi payudaranya. Napsuku semakin berkobar. Jilatan dan kuluman Fifine pada kontol ku semakin mengganas sampaisampai aku terengahengah merasakan kelihaian permainan mulutnya. Aku membalikkan tubuhnya hingga berlawanan dengan posisi tubuhku. Kepalaku berada di bawahnya sementara kepalanya berada di bawahku. Kami sudah berada dalam posisi enam sembilan! Lidahku menyentuh Memeknya dengan lembut. Tubuhnya langsung bereaksi dan tanpa sadar Fifine menjerit lirih. Tubuhnya meliukliuk mengikuti irama permainan lidahku di Memeknya. Kedua pahanya mengempit kepalaku seolah ingin membenamkan wajahku ke dalam Memeknya. kontol ku kemudian dikempit dengan payudaranya dan digerakkan maju mundur, sebentar.

Aku menciumi bibir Memeknya, mencoba membukanya dengan lidahku. Tanganku mengelus paha bagian dalam. Fifine mendesis dan tanpa sadar membuka kedua kakinya yang tadinya merapat. Aku menempatkan diri di antara kedua kakinya yang terbuka lebar. kontol kutempelkan pada bibir Memeknya. Kugesekgesek, mulai dari atas sampai ke bawah. Naik turun. Fifine merasa ngilu bercampur geli dan nikmat.

Memeknya yang sudah banjir membuat gesekanku semakin lancar karena licin. Fifine terengahengah merasakannya. Aku sengaja melakukan itu. Apalagi saat kepala kontol ku menggesekgesek i tilnya yang juga sudah menegang.

Om.? panggilnya menghiba.

Ya Fin, jawabku sambil tersenyum melihatnya tersiksa.

Cepetan.. jawabnya. Aku sengaja mengulurulur dengan hanya menggesekgesekan kontol. Sementara Fifine benarbenar sudah tak tahan lagi mengekang birahinya.

Fifine pengen banget ngentot om!, katanya.

Fifine melenguh merasakan desakan kontol ku yang besar itu. Fifine menunggu cukup lama gerakan kontol ku memasuki dirinya. Serasa tak sampaisampai. Maklum aja, selain besar, kontol ku juga panjang. Fifine sampai menahan nafas saat kontol ku terasa mentok di dalam, seluruh kontol ku amblas di dalam. Aku mulai menggerakkan pinggulnya pelan2. Satu, dua dan tiga enjotan mulai berjalan lancar. Semakin membanjirnya cairan dalam Memeknya membuat kontol ku keluar masuk dengan lancarnya. Fifine mengimbangi dengan gerakan pinggulnya. Meliuk perlahan. Naik turun mengikuti irama enjotanku.

Gerakan kami semakin lama semakin meningkat cepat dan bertambah liar. Gerakanku sudah tidak beraturan karena yang penting enjotanku mencapai bagianbagian peka di Memeknya. Fifine bagaikan berada di surga merasakan kenikmatan yang luar biasa ini. kontol ku menjejali penuh seluruh Memeknya, tak ada sedikitpun ruang yang tersisa hingga gesekan kontol ku sangat terasa di seluruh dinding Memeknya. Fifine merintih, melenguh dan mengerang merasakan semua kenikmatan ini. Fifine mengakui keperkasaan dan kelihaianku di atas ranjang. Yang pasti Fifine merasakan kepuasan tak terhingga ngentot denganku.

Aku bergerak semakin cepat. kontol ku bertubitubi menusuk daerahdaerah sensitivenya. Fifine meregang tak kuasa menahan napsuku, sementara aku dengan gagahnya masih mengayunkan pinggulku naik turun, ke kiri dan ke kanan. Erangannya semakin keras. Melihat reaksinya, aku mempercepat gerakanku. kontol ku yang besar dan panjang itu keluar masuk dengan cepatnya. Tubuhnya sudah basah bermandikan keringat. Aku pun demikian. Fifine meraih tubuhku untuk didekap. Direngkuhnya seluruh tubuhku sehingga aku menindih tubuhnya dengan erat. Fifine membenamkan wajahnya di samping bahuku. Pinggul nya diangkat tinggitinggi sementara kedua tangannya menggapai pantatku dan menekannya kuatkuat.

Fifine meregang. Tubuhnya mengejangngejang. OM!, hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya saking dahsyatnya kenikmatan yang dialaminya nersamaku. Aku menciumi wajah dan bibirnya. Fifine mendorong tubuhku hingga terlentang. Dia langsung menindihku dan menciumi wajah, bibir dan sekujur tubuhku. Kembali diemutnya kontol ku yang masih tegak itu. Lidahnya menjilati, mulutnya mengemut. Tangannya mengocokngocok kontol ku. Belum sempat aku mengucapkan sesuatu, Fifine langsung berjongkok dengan kedua kaki bertumpu pada lutut dan masingmasing berada di samping kiri dan kanan tubuhku. Memeknya berada persis di atas kontol ku. Akh! pekiknya tertahan ketika kontol ku dibimbingnya memasuki Memeknya.

Tubuhnya turun perlahanlahan, menelan seluruh kontol ku. Selanjutnya Fifine bergerak seperti sedang menunggang kuda. Tubuhnya melonjaklonjak. Pinggulnya bergerak turun naik.

Ouugghh.. Fin.., luar biasa!

jeritku merasakan hebatnya permainannya. Pinggulnya mengadukaduk lincah, mengulek liar tanpa henti. Tanganku mencengkeram kedua payudaranya, kuremas dan dipilinpilin. Aku lalu bangkit setengah duduk. Wajah kubenamkan ke dadanya. Menciumi putingnya. Kuhisap kuatkuat sambil kuremasremas. Kami berdua saling berlomba memberi kepuasan. Kami tidak lagi merasakan panasnya udara meski kamar menggunakan AC. Tubuh kami bersimbah peluh, membuat tubuh kami jadi lengket satu sama lain. Fifine berkutat mengadukaduk pinggulnya. Aku menggoyangkan pantatku. Tusukan kontol ku semakin cepat seiring dengan liukan pinggulnya yang tak kalah cepatnya.

Permainan kami semakin meningkat dahsyat. Sprei ranjang sudah tak karuan bentuknya, selimut dan bantal serta guling terlempar berserakan di lantai akibat pergulatan kami yang bertambah liar dan tak terkendali. Aku merasa pejuku udah mau nyembur. Aku semakin bersemangat memacu pinggulku untuk bergoyang. Tak selang beberapa detik kemudian, Fifine pun merasakan desakan yang sama.

Fifine terus memacu sambil menjeritjerit histeris. Aku mulai mengejang, mengerang panjang. Tubuhnya menghentakhentak liar. Akhirnya, pejuku nyemprot begitu kuat dan banyak membanjiri Memeknya. Fifine pun rasanya tidak kuat lagi menahan desakan dalam dirinya. Sambil mendesakan pinggulnya kuatkuat, Fifine berteriak panjang saat mencapai puncak kenikmatan berbarengan denganku. Tubuh kami bergulingan di atas ranjang sambil berpelukan erat.

Om, Uenaaaaaakkkk! jeritnya tak tertahankan.

Fifine lemas terkulai dan tak bergerak, dengan begitu banyak cairan lendir berwarna putih disekitar memeknya entah tertidur atau pingsan. Tenagaku pun terkuras habis dalam pergulatan yang ternyata memakan waktu hampir semalaman, dan kulihat waktu hampir menunjukan jam setengah 6 pagi. Akhirnya akupun tertidur kelelahan dengan memeluk Fifine eraterat dari belakang.

Post Terkait