cerita dewasa

Cerita Porno Pengalaman Pertamaku

Cerita ini terjadi sekian tahun yang lalu ketika Aqu masih berumur 15 tahun. Aqu bersekolah di sebuah SMP favorit di kotAqu dan ketika itu masih duduk di kelas 3 SMP. Aqu adalah anak terakhir dari 3 bersaudara dengan kakakku yang tertua telah menjadi dokter umum dan kakakku yang satu lagi masih kuliah di salah satu perguruan tinggi negri.

Karena melihat keberhasilan kedua kakakku, maka ayah dan ibuku pun menuntut hal yang sama dariku. Setiap kali Aqu mendapatkan nilai yang jelek, pasti habislah Aqu terkena amarah dari kedua orangtuAqu. Bahkan ayah sering memukuliku dengan sabuknya.

Ketika itu Aqu mendapatkan nilai yang jelek di mata pelajaran sejarah, karena Aqu memang tidak terlalu pandai di bidang itu. Karenanya, makian dan sabetan ayah pun harus kuterima dengan lapang dada. Pamanku yang bernama Willyata, masih berumur 26 tahun sudah sering membelAqu ketika ayah marah karena Aqu mendapatkan nilai buruk. Tapi tampaknya pembelaannya siasia saja karena semakin dia membelAqu, bukannya kasihan, ayah justru semakin geram dan Paman Willy selalu saja terkena makiannya pula.

Sambil menangis, Aqu pun mengadu ke Paman Willy tentang perlakuan ayah di kamarnya yang persis berada di sebelah kamarku.

Ayah jahat, Paman

Sudah Martina, kamu tenang saja

Martina pengen mati aja Paman, badan Martina sakit semua dipukulin Ayah terus

Hush jangan bilang gitu Martina, ayah tetap sayang kok sama kamu

Lalu Aqu menyingkapkan dasterku dengan tujuan menunjukkan pahaqu yang sudah berwarna kebirukebiruan terkena pukulan ayah. Lalu Paman Willy beranjak mengambil body lotion dan membaringkan Aqu yang masih terisakterisak di kasurnya.

Sudah diam, jangan menangis terus, sini Paman pijitin

Paman Willy dengan kelembutannya mengoleskan body lotion itu di pahaqu dan memijitmemijit pahaqu yang telah terbentang tanpa penutup di depan matanya.

Auch Paman pelanpelan, sakit Paman

Iya, Paman pelanpelan kok Martina.

Karena memang Aqu sudah akrab dengan Paman Willy sejak Aqu kecil, kami tumbuh bersama lebih sebagai kakak adik daripada hubungan pamankemenakan. Lalu Paman memegang bahuku untuk menenangkanku, tapi karena punggungku dan bahuku juga terkena pukulan ayah, maka Aqu pun mengerang kesakitan.

Auch Paman sakit sekali punggung Martina

Coba kamu lepas saja daster nya Martina, biar Paman pijitin juga punggung kamu

Aqu pun mengambil posisi tengkurap ketika Paman Willy memijatmemijat punggungku. Sesekali, tangannya yang lembut menyentuh bagian paling sensitif dari tubuhku, terutama karena memang Aqu adalah remaja puber yang baru saja mendapatkan perubahanperubahan di tubuhku. Tangannya sesekali menyentil bagian samping buah dadaqu, dan setiap kali itu pula badanku menyentakmenyentak.

Kenapa kamu Martina, sakit ya?

Nggak kok Paman, cuman Martina kaget

Ooh, itu normal kok, tandanya kamu sudah dewasa

Pipiku memerah menahan malu, karena ternyata Paman Willy mengetahui apa maksudku. Lalu dengan cepat Paman Willy membalikkan badanku dan dia dapat melihat buah dadaqu yang mulai tumbuh besar dengan pentilnya yang mencuat dibawah miniset yang kupakai karena Aqu mulai terangsang, terutama karena pandangannya yang menyapu bagianbagian tertentu dari tubuhku itu.

Wah Martina, kok buah dada kamu sudah sebesar itu kamu masih pakai miniset?

Iya Paman, habis Martina tidak tahu harus bagaimana

Besok pulang sekolah ikut Paman yah ke mall kita beli BH buat kamu

Paman serius?

Iya, tapi kamu tahu nggak ukurannya?

Wah kalau itu sih Martina nggak tahu Paman, gimana dong?

Coba sini Paman lihat

Dengan cepat pula Paman Willy menarik miniset yang kupakai, dan refleks tanganku menutupi buah dadaku yang tidak ditutupi dengan apapun juga. Perlahan tangan Paman Willy menarik tanganku yang menutupi buah dadaku itu.

Gila, Martina, buah dada sebesar itu kamu masih pakai miniset. Kalau kamu di sekolah, pasti tementemen kamu sering melihat pentil kamu dong

Iya Paman, tementemen Martina yang cowok kadangkadang ada yang jahil purapura tak sengaja menyenggol Martina punya

Tuh kan, barang segitu gede mustinya dibungkus yang bener, Martina

Lalu, dengan tangannya Paman Willy mulai memegangmemegang buah dadaku, mengusapmengusapnya dengan body lotion tapi tidak menyentuh pentilnya.

Wah ini pasti ukurannya 34B

Kok Paman tahu?

Paman cuman kirakira, Martina, besok kita tanya aja sama Mbaknya yang jaga toko, OK?

Sebelum Aqu menjawab pertanyaan Paman Willy, tibatiba mulutnya sudah ngempeng di pentilku, karena kaget tubuhku tersentak dan bukannya mengelak, Aqu pun malahan membusungkan dadAqu ke arah Paman Willy. TibaTiba Paman Willy melepaskan mulutnya dari pentilku, dan seketika itu pula tubuhku semakin maju mengikuti arah kepalanya.

Enak nggak Martina?

Dengan malumalu Aqu mengangguk dan dengan liar Paman Willy mulai memegangmemegang buah dadaku lagi, menggoyangmenggoyangkannya sambil memilinmemilin putingku yang sudah keras sekali. Lalu, Paman Willy keluar dari kamar dan ketika dia kembali, akan terjadi peristiwa yang lebih asik lagi.

Paman Willy kembali ke kamarnya ketika Aqu masih mengelusmengelus putingku sendiri.

Lho, Martina, kamu lagi ngapain?

Um, um, lagi cobain sendiri Paman, ternyata geligeli gimana gitu enak kok

Paman Willy ternyata mengambil 2 butir telur dari lemari es. Lalu, dia mengikat kedua tanganku ke belakang (di belakang pinggang), dan setelah itu mencium bibirku. Ketika tubuhku tersentak karena Aqu merasakan pentilku telah beradu dengan benda dingin yang aneh, tanpa kusadari ternyata Paman Willy mengelusmengelus kan telurtelur itu tadi ke kedua pentilku. Karena aliran dingin itu pula, Aqu merontameronta kegelian dan tidak berdaya karena kedua tanganku masih terikat. Aqu hanya bisa memaju mundurkan dadAqu saja dan justru itu menambah keasyikan sendiri ketika kedua putingku kembali menyentuh telur yang dingin itu.

Paman, Martina pengen kencing.

Kencing aja disini, Martina, nggak papa kok

Karena memang Aqu belum pernah berhubungan sex sebelumnya, cairan yang keluar kental dan tak hentihentinya itu ternyata lendir birahiku yang kuketahui setelah Paman Willy sendiri menjelaskannya kepadAqu.

Setelah kencing itu, Aqu merasakan badanku lemas terkulai. Dengan tangan yang masih terikat, Paman Willy mulai melucuti celana dalamku.

Paman, jangan dibuka Paman, Martina barusan aja kencing

Martina, biar Paman bersihkan kencingnya

Lalu Paman Willy melepas celana dalamku yang sudah basah oleh lendir kewanitaanku. Dengan liar, Paman Willy menjilati kemaluanku yang sudah basah itu.

Geli ah Paman, kok Paman nggak jijik jilatin kencing Martina?

Hmph, hmph, kemaluan kamu kenyal Martina

Justru mendengar katakata jorok dari Paman Willy itulah berahiku timbul lagi dan ketika kemaluanku sudah merasakan nyotnyotan yang hebat, Aqu pun berteriak.

Sudah Paman, Martina mau kencing lagi

Karena Paman Willy benarbenar melepaskan lidahnya dari kemaluanku, pinggulku dengan selangkangannya yang telah terbuka lebar dan berlendir itu pun terangkat. Lalu setelah beberapa saat, Paman Willy berbalik menjilatiku lagi. Dan tak lama lalu, Aqu pun mengerang hebat.

Arghh Paman, Martina kencing lagi Paman

Cairan kental yang deras (lebih hebat dari yang pertama kurasakan) mengalir kembali di kemaluanku. Paman Willy mulai melucuti pakaiannya dan Aqu kaget melihat kemaluannya berdiri tegak menantang.

Lho kok bisa berdiri gitu sih Paman?

Memang itu keistimewaan lakilaki, Martina, ade Paman ini bisa juga lemes dan lucu tapi bisa juga jadi gede dan tegak

PelanPelan Paman Willy mengarahkan kemaluannya ke kemaluanku.

Paman, mau dimasukkan kemana Paman, kemaluan Martina tidak berlubang

Dengan sabar Paman Willy berkata,

Setiap kemaluan perempuan berlubang, Martina dan lubang itu baru berguna setelah ada lakilaki yang mau masuk ke lubang itu

Tapi Martina tidak pernah melihat lubangnya, Paman

Nanti kamu juga merasakannya, tidak usah ingin melihatnya, Martina

Daging yang kenyal itu (kepala kemaluan Paman Willy) mulai menggesekmenggesek bagian yang menonjol dari kemaluanku, oleh karenanya cairan yang keluar tadi mulai lagi mengalir di kemaluanku dan Aqu merasa lagi kegelian.

Karena masih perawan, maka lubang kemaluanku mungkin memang sulit ditemukan oleh Paman Willy. Sambil masih terus menggosokmenggosokkan kepala kemaluannya, Paman Willy memijitmemijit bibir kemaluanku dan merekahkannya pelanpelan. Dengan tangan yang masih terikat, Aqu merontameronta.

Paman, sakit Paman

Kamu mau kita cari lubang itu nggak?

Mau Paman

Paman Willy mulai mengarahkan kemaluannya ke lubang kemaluanku. PelanPelan dia menggesekmenggesek kan kepala kemaluan itu dan Aqu mulai merasakan adanya lubang di kemaluanku. PelanPelan sambil digosokdigosokkan maju mundur, akhirnya clep, kemaluan Paman Willy masuk menembus selaput darAqu.

Arhh Paman, sakit sekali, darah segar pun mengalir di selangkanganku.

Dengan kemaluannya yang masih menancap, Paman Willy hanya tersenyum melihat reaksiku. Dia masih diam dan sambil pelanpelan mengelusmengelus bahuku dan buah dadaku. Setelah Aqu agak tenang, Paman Willy memutarmemutar pinggulnya sehingga Aqu merasa geli yang hebat di seluruh bagian rahimku dimana tertancap kemaluan Paman Willy. Daging yang kenyal itu melesakmelesak menyenggolmenyenggol semua bagian seakanseakan mengocokmengocok isi perutku. PelanPelan Paman Willy mulai menggenjot kemaluannya dengan memaju mundurkan kemaluan nya dari lubang di kemaluanku.

Kemaluan kamu sempit sekali Martina, dede Paman serasa dipijitin

Argh Paman, ah, geli ah..

Paman Willy tidak hanya menggenjotku, tapi meremasmeremas putingku dengan liar, melumatnya dengan lidahnya mengecupmengecupnya dan karena tanganku yang masih terikat di belakang punggung, Aqu pun hanya pasrah atas apa yang akan dilAqukan Paman Willy.

Pamanm Martina kencing lagi Paman

Dan ketika cairan kental itu keluar lagi dari kemaluanku, Paman Willy masih menancapkan kemaluannya di kemaluanku sambil menunggu sampai gerak badanku agak melemah.

Setelah itu, tubuhku diangkatnya dan kakiku dilingkarkan ke pinggangnya, dan dia memainkan Aqu seperti bonekanya, naik turun dan oleh karena gerakan itu juga, setiap kali tubuhku bergoyangbergoyang, pentilku bergesekan dengan dadanya yang berbulu tipis dan bidang itu. Kegelian yang kurasakan makin hebat karena kemaluan Paman Willy semakin melesak masuk ke dalam lubangku itu.

Direbahkannya lagi tubuhku dan diganjalnya pinggangku dan pantatku dengan tumpukan bantal sehingga kemaluanku semakin terkuak lebar dan itu memudahkan Paman Willy untuk menancapkan kemaluannya di lubangku. Pada posisi itu pula akhirnya kemaluan Paman Willy terasa berdenyutberdenyut dan akhirnya menyemprotkan cairan yang banyak bersamaan dengan orgasmku yang terakhir.

Setelah itu, Aqu pun terbaring lemas dan pelanpelan Paman Willy melepaskan ikatan tanganku lalu memandikan Aqu dan mengeringkanku dengan penuh kelembutan.

Sekarang Martina sudah menjadi perempuan ya, Paman?

Iya, lubangnya ada kan Martina?

Eh iya Paman

Tapi, sebagai perempuan kamu tidak boleh sembrono memasukkan semua kemaluankemaluan ke dalam lubang kemaluanmu itu, apalagi kalau sampai kemaluankemaluan itu menyemprotkan cairan seperti kemaluan Paman tadi

Kenapa Paman?

Karena cairan yang menyemprot itu berisi benih lakilaki, Martina. Kamu bisa saja hamil

Karena wajahku pusat pasi mengetahui kenyataan itu, Paman Willy menenangkan Aqu dan memberiku pil anti hamil untuk mencegah Aqu hamil.

Malam itu, Aqu tertidur pulas setelah kencing untuk kesekian kalinya dari hasil memilinmemilin puttingku sendiri. Setelah kejadian itu, setiap kali ayah memarahiku, lubangku tidak pernah menganggur untuk diisi kemaluan oleh Paman Willy. Dan pengetahuanku tentang seks semakin bertambah, hingga tak sepantasnya diumurku yang masih belia sudah mengenal orgasme, sperma, ejAqulasi, dan istilahistilah seks lainnya.

Post Terkait