cerita dewasa

Hari Valentine yang Kelabu

Arka melumat bibir Shinta. Shinta pun membalas dengan lumatan yang tak kalah ganasnya. Mereka berdua kini larut dalam birahi, seiring malam yang kian larut serta hujan yang makin lama makin deras turun di bulan Februari ini. Kedua tubuh mereka kini sudah tak berbusana lagi, pakaian mereka telah tercecer di manamana. Mereka tak peduli lagi tentang bajubaju yang sudah tidak menutupi tubuh mereka. Hanya usapan dan belaian di titiktitik sensitiflah yang ingin mereka sentuh.

Shinta meremas batang Arka yang keras. Berusaha memberikan rangsangan yang makin lama makin menyiksa Arka. Buah dada shinta pun tak luput dari remasanremasan yang berujung pada pelintiranpelintiran kecil di puting susunya yang berwarna coklat. Benda kecil itu pun mulai mengeras, mengacung membuat Arka sudah tak sabar lagi ingin menghisapnya. Ya, Arka menghisapnya seperti bayi. Mengenyot, seolaholah ia punya hak untuk bisa menghisap ASI yang ada di dalam buah dada itu. Tapi sayang ASInya tidak keluar lagi.

Hubungan mereka menjadi suami istri sudah menginjak tahun ketiga. Dan ini adalah ulang tahun pernikahan mereka. Tentunya mereka ingin mengingat kembali masamasa mereka melewati malam pertama dengan canggung. Malam pertama yang polos, malam pertama yang mana Arka benarbenar bernafsu kepada Shinta. Mungkin nafsunya dulu tak sebesar sekarang, namun malam ini servis Shinta cukup memuaskan.

Begitu mereka selesai dari makan malam yang hebat di sebuah restoran, mereka kemudian melanjutkannya dengan bercumbu di dalam mobil. Hingga Arka sudah tak tahan lagi, ia pun ingin diservis. Shinta mengerti dan segera mengoral kemaluan Arka yang sudah keras. Selama perjalanan pulang dari restoran. Arka dihisap, dilumat, dikulum kemaluannya oleh Shinta. Semakin panas karena Arka bukan tipe cowok yang gampang ngecrot karena hanya garagara dioral, sekalipun oralan Shinta itu sangat profesional, mengalahkan wanita panggilan yang beberapa kali pernah dirasakannya juga oleh Arka.

Begitu sampai di rumah, mereka langsung masuk ke dalam rumah, menuju ke kamar dan melepaskan semua baju yang melekat. Dan akhirnya mereka sudah larut dalam lautan birahi dan cinta. Arka termasuk orang yang sangat profesional dalam menaikkan libido istrinya. Shinta sendiri puas setiap kali bercinta dengan suaminya itu. Arka sudah memasukkan batang kemaluannya ke dalam liang senggama Shinta yang cukup sempit. Ya, apalagi mereka belum punya anak. Liang senggama itu sudah becek, lendir yang keluar menandakan Shinta sudah tak tahan ingin digeseki oleh kemaluan keras Arka.

Arka mulai bergoyang lembut. Dia tak ingin buruburu. Itulah prinsip yang selalu Arka pegang dalam bercinta. Hal itulah yang membuat pasangannya pasti puas. Bahkan karena prinsipnya inilah semua WP yang pernah ia kencani rela dibayar rendah demi ingin tidur dengannya. Bahkan sebagian pun jadi teman, karena saling membutuhkan kadang juga Arka mendapatkan mereka dengan gratis.

Shinta melenguh. Tubuhnya terus menggeliat seiring dengan desakan kemaluan suaminya di liang senggamanya yang berkedutkedut. Arka mulai memacu, menganyuh birahinya. Gesekangesekan kemaluan mereka berdua makin mantap, makin terasa untuk meledak. Dan Arka sudah tak sabar lagi ingin segera mengeluarkan cairan kental miliknya ke dalam rahim Shinta. Gesekangesekannya makin cepat.

Shintaaa..gue nyampeeeee.! seru Arka.

Aahhhkk.mas.aku jugamas.ohhh! lenguhannya.

Mereka berdua pun akhirnya sampai ke puncak kenikmatan yang membuat mereke melenguh. Tubuh Shinta mengejang ketika mendapatkan semprotan mani ke dalam rahimnya. Arka pun merasa puas, sangat puas. Mereka tutup persenggamaan itu dengan kecupan mesra. Shinta memeluk suaminya dengan erat hingga malam pun berlalu.

Malam pun berlalu tak terasa hari telah siang. Sinar mentari menembus kaca jendela. Arka terbangun dan langsung mandi. Ini hari Minggu. Tak perlu dia buruburu pergi, mau kemana memangnya? Kantor tutup, satusatunya yang paling logis orang buruburu pergi di hari Minggu adalah kalau dia bukan karyawan sebuah tempat wisata, maka dia punya janji dengan seseorang. Siapakah orang yang sangat penting baginya itu?

Sayang aku harus pergi, kata Arka.

Oh, sudah mau pergi? Padahal aku ingin kita main satu kali lagi, jawab Shinta.

Besok kan juga bisa, tiap hari malah kita bisa main.

Titip salam buat Gina. Semoga lekas sembuh.

Tentu saja.

Arka meninggalkan Shinta sebuah kecupan hangat di bibirnya. Ya kecupan hangat. Sebuah hal biasa yang dilakukan oleh suami istri.

Beberapa waktu kemudian mobil Arka sudah melaju di atas aspal. Namun Hari Minggu hujan? Harap dimaklum ini masih bulan Februari. Januari kemarin hampir setiap hari pasti hujan. Mobil Arka sudah meluncur keluar kota. Begitu masuk ke daerah Lembah Asem Jajar, dia langsung disambut oleh pepohonan yang berjejer di sepanjang jalan aspal yang makin lama aspalnya makin hilang.

Kini Arka mulai memasuki jalanan yang tidak mulus, bergelombang, berkerikil. Bahkan sesekali mobilnya terhentak karena beberapa lubang. Hujan masih mengguyur. Gunung yang ada di hadapannya pun mulai tak terlihat karena kabut makin tebal. Mobil mulai perlahanlahan memasuki sebuah desa dengan aspal yang kembali mulus. Tak ada orang yang terlihat, mungkin karena hujan yang lebat, atau mungkin memang populasinya sedikit.

Mobil pun berhenti di halaman sebuah rumah yang cukup besar. Setelah mesin dimatikan Arka pun keluar menuju rumah itu dengan berlarilari kecil. Arka tampak membawa sebuah bungkusan berwarna hitam dan sebuah gambar mawar merah di bungkusnya. Bel ditekannya, seorang wanita berparas cantik keluar dari dalam rumah dan membuka pintu.

Arka?? dia agak terkejut.

Kak Gina? sapa Arka.

Masuk! ajak Gina. Sendirian saja?

Memangnya harus ada orang?

Kirain saja sih.

Rencana kita kan bukan seperti itu.

Jadi, hari ini?

Mau besok? Ini selamat hari Valentine, kata Arka sambil menyerahkan bungkusannya.

Makasih.

Keduanya lalu berpelukan. Jantung Arka berdegup kencang. Demikian juga Gina. Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah. Gina langsung melumat bibir adiknya itu, dia sudah benarbenar merindukan ciuman dari lelaki yang selama ini ia cintai sepenuhnya itu.

Sabar dong kak, kita punya banyak waktu. Bagaimana kalau kita melakukannya sambil menonton? tanya Arka.

Ah, ide bagus. Yuk!? Gina pun menarik tangan Arka.

Mereka masuk ke sebuah kamar. Di kamar itu ada banyak layar monitor. Arka melihat satu per satu layar monitor itu. Kesemuanya menampilkan sebuah pemandangan kamera CCTV di rumah Arka. Dia melihat istrinya sedang mandi. Tubuh telanjangnya terlihat mengkilat terkena pantulan cahaya lampu kamar mandi. Air shower tampak membasahi rambut sampai kakinya.

Arka tentu saja sangat bergairah ketika melihat tubuh istrinya. Hanya saja dia melakukan itu sebagaimana kewajibannya sebagai suami, bukan orang yang benarbenar mencintainya, bukan orang yang benarbenar ingin merasakan bagaimana indah dan nikmatnya mencintai seorang wanita. Selama ini tidak seperti itu. Dia hanya mencintai satu orang dan menikmati percintaan dengan satu orang, yaitu kakaknya sendiri Gina.

Arka mengambil ponselnya sementara kakaknya mulai melepaskan kancing kemejanya satu per satu. Lalu disusul sebuah gerakan erotis celana Arka sudah terlepas berikut celana dalamnya. Burung Arka masih tidur, tapi tak masalah bagi Gina. Dia tahu bagaimana cara memuaskan adiknya itu seperti yang sudahsudah. Gina mulai melepaskan bajunya satu persatu. Dari babydollnya, lalu bra dan celana dalamnya. Dia berlutut dan langsung memasukkan kepala penis adiknya itu ke mulutnya.

Halo? Joni? Lakukan sekarang! kata Arka.

Arka melihat ke layar monitor CCTV. Ada dua orang berjalan dan berdiri di depan pintu rumahnya. Bel dipencet. Shinta yang mendengarnya segera menghentikan air showernya dan memakai handuk. Ia buruburu pergi dari kamar mandi mengambil kimono dan segera ke pintu. Pintu dibuka, kedua orang itu segera masuk. Shinta menjerit, tapi kedua orang itu langsung membekap dia. Dia merontaronta. Walaupun video itu bisu, tapi Arka tahu betapa tegangnya Shinta sekarang. Terlebih orang suruhannya sudah mengacungkan pisau ke wajah Shinta.

Shinta ketakutan terlebih ketika kimononya ditarik, handuknya dilepas. Dengan satu gerakan ia didorong hingga terbaring di atas sofa. Shinta lalu ditampar. Shinta mungkin saat ini sedang shock, kepalanya berkunangkunang. Joni membuka pakaiannya hingga tak ada sehelai benang pun yang menutupinya. Tubuh Shinta yang mulus telanjang membuat darah Arka mendidih apalagi mengetahui kalau Shinta akan diperkosa oleh Joni. Sementara itu kakaknya sudah sibuk mengoral batangnya yang sudah mengeras.

Ahhkau memang hebat Kak Gina, terus! kata Arka.

Joni mulai menindih Shinta, mengenyoti puting susu Shinta yang tadi malam sudah disedot oleh Arka. Melihat istrinya sendiri diperkosa membuatnya bergairah. Secara tak sengaja pantatnya maju mundur, membuat penis Arka makin dalam menggesek mulut Gina. Temannya Joni mulai melepaskan bajunya juga. Kini terlihat di layar monitor penis temannya Joni yang tebal dan panjang sudah menamparnampar pipi Shinta. Shinta masih belum pulih dari tamparan Joni.

Kini Joni sudah mengelamuti kemaluan Shinta. Shinta tersentak dan merontaronta. Tapi percuma. Kedua kakinya dipegang dengan kuat oleh Joni dan kedua tangannya dipegangi oleh temannya Joni. Energi kedua orang ini terlalu kuat. Shinta memohonmohon. Tapi itu tak digubris. Shinta terus meronta dan memohon, hal itu membuat Arka berinisiatif agar Gina menungging di atas kasur sambil menonton monitor CCTV itu. Gina naik ke ranjang, Arka sudah berada di belakangnya. Posisi Gina menungging dengan mengarahkan pantatnya ke atas. Arka mulai menggesekgesekkan kemaluannya di belahan memek Gina.

Aaahhnikmat sekali Ka, masukin dong! Seru nih perkosaannya! kata Gina.

Tentu sayang, nih.oooohhhhhhhh! Arka melenguh ketika kepala penisnya sudah masuk menembus lubang kakak kandungnya itu. Arka mulai bergoyang lembut sambil menggosokgosok punggung kakaknya. Sesekali ia melihat ke layar monitor melihat bagaimana Joni sekarang sudah menggenjot kemaluan istrinya. Shinta menangis, meraung dan merontaronta, tapi ia tak bisa berbuat apaapa.

PLOK! PLOK! PLOK! Suara pantat Gina beradu dengan selakangan Arka membuat kamar itu makin penuh dengan aroma erotis. Arka beberapa kali menamparnampar pantat semok Gina.

AhhKa,ehhnnaaakbangngettohhk ontol lo ngaceng banget Ka! ujar Gina.

Memekmu juga sempit Kak, pengen dientot terus rasanya. Bokongmu jugaohhngegemesin, Arka terus menggenjot Gina.

Joni terlihat membalikkan badan Shinta. Rupanya ia tak puas dengan posisi Man On Top, Shinta sekarang menungging, dia pun disodok dari belakang. Tubuh Shinta diombangambingkan, kini Shinta terjatuh ke lantai tapi Joni masih tanpa ampun menyodoknya. Pinggang Shinta dipegang dan dihentakhentakkannya sekuat tenaga. Sementara itu temannya Joni meremasremas payudara Shinta.

Gerakan maju mundur Joni makin cepat. Ia hampir klimaks, ekspresi di wajahnya pun bisa menggambarkan ini semua. Dan benar saja. Pantatnya menegang dan menghujamkan penisnya dalamdalam ke liang senggama Shinta. Shinta masih menangis, tersedusedu. Sekarang setelah Joni puas dan mencabut kemaluannya tampak lendir putih meleleh dari lubang memek Shinta. Shinta langsung dibalikkan oleh temannya Joni. Dan dengan hentakan kasar memeknya pun dimasuki oleh kemaluan yang lebih besar. Shinta kaget sampai memeluk temannya Joni itu.

Arka merubah posisinya, kini dia telentang. Gina ada di atasnya membelakangi tubuhnya menghadap layar monitor. Melihat adegan perkosaan yang terpampang di hadapannya membuatnya terangsang lagi. Penis Arka benarbenar sudah maksimal. Apalagi gerakan erotis dari pantat Gina meliukliuk membuat penis Arka seperti ingin dimakan oleh memeknya.

Kak Gina, aku mau keluarrahhmemek kakak enak banget, ngempotempot. Ouuhhhhh. enak banget. Fuuuckkk! Fuuuuccckk! Aaahhhhhhhh! Arka pun mengeluarkan pejunya.

Gina masih meliukliukkan pantatnya, tapi sesaat kemudian berhenti. Pantatnya bergetar, ia juga orgasme sepertinya. Sementara itu Shinta masih dikerjai oleh Joni dan temannya. Entah berapa kali Shinta diperkosa hari itu. Arka menonton perkosaan itu sambil bercinta dengan kakaknya. Kenikmatan dan kepuasan yang sangat luar biasa, tak pernah terbayangkan oleh mereka sebelumnya.

Arka melihat di layar monitor CCTV. Shinta pingsan setelah diperkosa berkalikali oleh Joni dan temannya. Mereka sudah memakai pakaian mereka kembali. Tampak tubuh Shinta penuh dengan air mani yang belepotan. Di punggung, wajah dan dadanya. Bahkan Shinta pun dipaksa untuk meminum air mani Joni. Arka pun menelpon Joni lagi. Di layar monitor CCTV Joni tampak menerima teleponnya.

Habisi seperti yang kubilang. Singkirkan mayatnya jangan sampai terlihat! kata Arka.

Siap boss! kata Joni. Kemudian teleponnya ditutup.

Joni kemudian memegang leher Shita. Kemudian dengan sebuah gerakan kepala Shinta diputar hingga kebelakang. Hal itu membuat Shinta mengejang dan langsung tak sadarkan diri. Shinta mati dengan leher patah menghadap ke belakang. Dalam bayangan Arka sekarang uang pertanggungan dari asuransi sebesar 2 milyar sudah di depan mata. Gina tampak tersenyum bahagia dan memeluk Arka.

Ka, sebentar lagi kita bisa menghilang dengan uang itu, kata Gina.

Iya, tentu saja sayangku, kata Arka.

Oh iya, aku mau bilang satu hal sebenarnya.

Apa?

Aku hamil anak kita.

Arka menoleh ke arah Gina. Ia menegakkan alisnya.

Sungguh?

Iya, sungguh. Positif sudah tiga minggu, kata Gina.

Arka pun makin erat memeluk kakaknya ini. Aku jadi tak sabar kita segera menikah kak.

Jangan panggil kak lagi, panggil sayang atau cinta gitu, kata Gina.

Baiklah cinta.

Semua ini terjadi sudah lama. Gina dan Arka saling mencintai sejak kecil. Mereka jadi kekasih walaupun mereka saudara kandung. Namun karena orang tua Arka menjodohkannya dengan Shinta yang mana termasuk anak dari rekan kerja ayahnya maka ia tak punya pilihan lain. Menikah dengan saudara kandung tak mungkin dilakukan, terlebih kalau kedua orang tua mereka masih hidup. Maka yang dilakukan oleh Arka adalah, menghabisi kedua orang tuanya sehingga ia bisa mewarisi perusahaan ayahnya. Dan yang terakhir dengan uang 2 milyar dari asuransi istrinya, ia akan bisa membuat hidup baru dengan kakaknya. Terlebih Joni memang sudah bernafsu lama sekali dengan istrinya itu. Joni pun akhirnya mendapatkan kepuasan hari ini dengan memperkosa Shinta. Tapi apakah semudah itu?

Bisa iya, bisa tidak.

Setelah Joni selesai membereskan Shinta. Tampak dari monitor CCTV rumahnya lengang. Tak ada apaapa, tak ada siapasiapa. Arka pun terlelap, namun ia dikejutkan dengan suara ponselnya yang berdering. Dari seseorang kliennya. Ia langsung mengangkat.

Pak Arka? Maaf mengganggu weekend Anda. Sebelumnya happy valentine, dia adalah Pak Bondan. Seorang klien yang selama ini sangat ia nantikan investasinya ke perusahaannya sekarang ini.

Oh, bagaimana Pak?

Saya setuju kerja sama kita, hanya saja bisa kah besok kita ketemuan sambil membeberkan presentasi yang dulu pernah Anda berikan ke saya?

Ah, sangat bisa. Saya segera siapkan!

Terima kasih pak. Semoga kerja sama kita akan terus berlanjut!

Tentu. Samasama, kata Arka.

Ada apa Ka? tanya Gina.

Aku harus kembali mengambil berkas untuk perjanjian dengan klien besok. Ini klien besar.

Oh, ya udah. Hatihati ya?!

Mereka berdua berciuman hangat. Arka segera memakai pakaiannya dan langsung menuju ke rumahnya lagi. Perjalanan pulang pergi ini membuat dia terasa capek. Tapi mau tak mau ini yang harus dia lakukan. Rencana ini sudah dia susun berbulanbulan lamanya dengan Gina. Dengan alasan Gina sakit tipus. Tentu saja Shinta tak bisa menjenguknya apalagi dia kerja di hari Minggu sebagai petugas penjaga toll. Maka dari itulah Arka memakai kesempatan ini. Kesempatan satusatunya.

Dia cukup gembira karena sebentar lagi dia akan jadi ayah. Sudah tiga tahun bersama Shinta tapi tak punya keturunan. Arka memang menghalangi Shinta untuk hamil, alasannya sederhana. Ingin menikmati kebersamaan mereka terlebih dulu. Karena mereka belum kenal satu sama lain. Ide itu diterima Shinta begitu saja. Apakah Shinta sangat mencintai Arka? Shinta pernah bilang sendiri kalau dia sangat mencintai Arka.

Aku mencintaimu Ka? Bahkan kalau aku nanti mati, aku ingin hidup dan mencintaimu lagi. Sampai kamu juga ikut mati bersamaku, kata Shinta.

Entah itu keinginan Shinta, ataukah sekedar doanya atau bualannya saja. Arka memang perayu ulung, ciumannya maut, membuat Shinta yang baru mengenalnya di acara perjodohan keluarga saja langsung klepekklepek. Shinta pun rela menyerahkan mahkotanya kepada Arka di malam pengantin mereka. Apapun keinginan Arka dalam berhubungan sex ia penuhi. Arka cukup puas menganggap Shinta sebagai budak sexnya. Tak lebih.

Arka sudah tiba di rumahnya. Sepi. Tak ada orang. Joni benarbenar membersihkan semuanya. Entah mayat Shinta dibuang ke mana. Arka tak peduli. Dia bersiulsiul ketika memutar knob pintu rumahnya. Sepi, sunyi. Dia melihat tempat kejadian perkara di mana Joni memperkosa istrinya di atas sofa. Ia pun mencium bau sofa itu, bau sperma dan bau keringat Shinta. Dia tersenyum dan tertawa penuh kemenangan.

Hari ini hari valentine. Biasanya malam ini istrinya akan memberikan dia coklat. Coklat berbentuk hati berisi kacang mente. Tapi hari ini ia tak akan mendapatkannya. Karena Shinta sudah pergi untuk selamanya. Tinggal menunggu waktu 2×24 jam untuknya melapor ke polisi bahwa istrinya tidak pulangpulang. Dan setelah itu akan ditemukan mayat istrinya mengapung di sungai atau di suatu tempat dengan bekas pemerkosaan. Sehingga hal itu tidak akan membuat polisi mencurigainya. Perfect. Kejahatan yang sempurna.

Arka menuju ruang kerjanya mengumpulkan berkasberkas yang ia inginkan untuk bekerja dengan Pak Bondan. Arka menyusun berkas demi berkas, dia juga mempersiapkan file persentasi. Sampai tak terasa ketika mengetik di laptopnya ia pun tertidur. Ya, Arka tertidur di meja kerjanya. Ia pun terbangun ketika mendengar suara ribut di dapur. Seperti suara seseorang sedang mencuci piring. Dia sangat kaget melihat dirinya sudah memakai selimut. Siapa yang memberinya selimut?

Dia lalu lebih terkejut lagi ketika merasa ada orang lain di rumahnya. Shinta? Tak mungkin. Shinta sudah mati. Mayatnya sudah dibuang oleh Joni. Arka lalu menelpon Joni untuk memastikan.

Halo? Joni? sapa Arka.

Yup bos? Ada apa? tanya Joni.

Mayatnya sudah dibuang?

Sudah dong, beres. Paling seminggu lagi ketemu dan muncul di headline surat kabar.

Oke, thanks.

Jadi memang benar yang ada di rumah ini bukan Shinta. Lalu siapa? Gina? Nggak mungkin. Gina masih ada di rumahnya. Masa menyusul ke sini?

Arka berjalan mengendapendap memastikan siapa yang ada di dapur itu. Astaga!

Hai Sayang? Loh? Udah pulang? Katanya jenguk Gina?

Lho? K..kamu..kamu??

Lutut Arka lemas. Melihat Shinta berdiri di dapur sedang mencuci piring. Apa yang sebenarnya terjadi? Lalu siapa yang dibunuh Joni?

Kenapa mas? Kaya ngelihat hantu aja, kata Shinta dengan santai. Dia berjalan menghampiri Arka dan mencium bibirnya.

Arka benarbenar gemetar. Tak mungkin. Tak mungkin. Tak mungkin. Berkalikali ia berkata dalam hatinya seperti itu. Shinta pergi ke dalam kamarnya. Arka segera mengikuti Shinta dan didapati istrinya sedang ganti baju.

Kenapa sih yang? Dari tadi koq sepertinya penasaran banget deh. Ada apa? Aku sedang ganti baju nih, kata Shinta yang sekarang sedang melepaskan baju kemejanya.

Arka kemudian keluar dari kamar. Dengan cepat ia mengambil ponselnya dan menelpon Joni.

Joni? Kamu yakin yang kamu bunuh itu Shinta? tanya Arka.

Bos, emangnya aku nggak tahu siapa Shinta? Ya tahulah. Ini dia ada di jok belakang mobilku. Kenapa? tanya Joni.

Lho, kalau yang kamu bawa itu Shinta yang ada sama aku ini siapa?

Bos, jangan bercanda! Ini masih sore belum malem! Lagian bukan malam Jumat!

Aku serius!

Udah ah bos, nggak lucu! Joni menutup teleponnya.

Nggak lucu? Nggak lucu? Arka berkalikali bertanyatanya dalam hatinya.

Ini pasti halusinasiku, tapi ciumannya sangat nyata. Sentuhannya sangat nyata. Apa yang sebenarnya terjadi? kata Arka dalam hati. Arka pun kemudian ke dapur mengambil pisau. Dia harus membuktikan bahwa apa yang dilihatnya bukan halusinasi.

Arka berjalan ke kamarnya sambil menyembunyikan pisau dapur di punggungnya. Shinta keluar dari kamarnya.

Hai sayang?! sapa Shinta.

Tanpa babibu Arka langsung menghunuskan pisau dapur itu ke perut Shinta.

OOHHKkkk.! Say..yyaangg. aphhaa yang Shinta menahan tangan Arka tapi Arka terus mendorongnya hingga menghantam tembok. Arka kemudian merobek perut Shinta hingga istrinya itu jatuh terkapar di lantai dengan isi perutnya terburai. Mata Shinta membelalak.

Iniini asli. Ini Shinta yang asli. Aku bunuh dia! kata Arka. Brengsek Joni. Siapa yang kamu bunuh sebenarnya? Tak mungkin itu Shinta. Ini Shinta aku bunuh sendiri!

Arka gemetar. Ia membungkus tubuh Shinta dengan plastik. Kemudian dia mengambil selotip, lakban dan apapun untuk bisa membungkus tubuh Shinta yang sudah tak bernyawa. Arka panik, sangat panik. Baru kali ini ia melakukannya. Membunuh orang secara langsung. Walaupun orang tuanya mati karena dibuat dengan cara kecelakaan, tapi yang ini ia melihat mata korbannya, yaitu istrinya sendiri. Kalau Shinta ia bunuh, lalu siapa yang dibunuh oleh Joni? Siapa yang disetubuhinya? Bukankah dia melihat di kamera CCTV?

Butuh waktu 40 menit bagi Arka untuk membungkus tubuh istrinya. Ya, 40 menit yang paling lama dalam sejarah hidupnya. Mulai dari membungkus mayat, juga membersihkan darah di lantai dengan alkohol. Dia pun mengangkat tubuh istrinya yang sudah tidak bernyawa itu keluar rumah. Ia sengaja keluar lewat pintu samping agar tak diketahui para tetangga. Kemudian dia membanting begitu saja mayat istrinya itu ke pinggiran rumah, satu tumpukan dengan tong sampah.

Gila, edan. Aku harus menghubungi Joni, kata Arka.

Dia segera memutar nomor Joni. Joni pun mengangkat.

Halo? Ada apa boss? tanya Joni.

Kamu ke rumah deh, beresin nih satu mayat! Aku bilang suruh bunuh Shinta lah yang aku bunuh barusan siapa ini? Bukan Shinta? kata Arka.

Sebentar boss? Aku lho barusan buang mayatnya. Mana mungkin ada Shinta lagi?

Sudahlah kamu ke sini saja!

Arka kemudian menutup teleponnya. Ia cukup frustasi dengan hal ini. Ia pun masuk ke rumah dan merebahkan diri ke sofa. Dia masih berdebardebar. Ini adalah kali pertamanya dia melakukan hal seperti ini. Sampai tak terasa dia pun tertidur. Dia cukup nyenyak tidurnya. Bahkan sampai bermimpi menikmati uang sebesar dua milyar yang ia citacitakan bersama Gina kakak kandungnya. Dan mereka berlibur ke luar negeri.

Tibatiba mimpinya terganggu.

Hei, bangun sayang! ia tahu suara itu. Suara Shinta.

What THE FUCK??! jeritnya karena kaget. Dia langsung terbangun dari sofa.

Shinta, dengan pakaian yang sama lagilagi ada di depannya. Tentu saja Shinta kaget ketika suaminya kaget melihatnya.

Tak mungkin, tak mungkin! kata Arka.

Ada apa sayang? Kamu seperti melihat hantu? Oh iya, selamat hari valentine yah. Nih aku beliin coklat, kata Shinta sambil memberikan sebungkus coklat besar. Aku letakkan di meja yah.

Shinta kemudian pergi ke kamar meninggalkan Arka sendirian di atas sofa. Arka langsung berlari ke samping rumah. Dia melongok ke tumpukan sampah. Tampak tubuh Shinta yang ia bunuh tadi ada di sana. Lalu siapa yang barusan membangunkan dia tadi? Siapa?

Arka segera pergi ke gudang. Dia ambil sebuah martil besar, kemudian dengan sangat bernafsu ia terpaksa harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa kali ini bukan Shinta yang ia bunuh tetapi wanita yang menyerupai Shinta atau mungkin adalah hantunya. Arka mendapati istrinya keluar kamar dengan menggunakan kaos yang terlihat ketiaknya dan berhotpants. Melihat Arka membawa martil besar dia bertanyatanya.

Buat apa itu? tanya Shinta.

Untuk meremukkan kepalamu, jawab Arka. Dia langsung mengayunkan martil itu ke kepala Shinta.

KRAK. Suara retakan tulang tengkorak terdengar bahkan akibat hantaman martil itu mata Shinta langsung juling. Kepalanya hancur, tubuhnya pun seperti terkejut, mengejang, lalu ambruk. Arka sudah menjadi gila. Ia hantamhantamkan lagi palu besar itu ke kepala Shinta hingga benarbenar remuk.

Brengsek! Brengsek! Bangsat! Kenapa kamu hidup lagi? Kenapa? Kenapa? Kenapa?

Jantung Arka masih belum berhenti berdegup kencang ketika dia sudah yakin telah membunuh Shinta untuk yang kedua kalinya. Dia kini meyakinkan diri telah melihat Shinta untuk kedua kalinya dan dia yakin telah menghabisi nyawa Shinta untuk yang kedua kalinya. Lagilagi dia harus membungkus mayat itu. Tapi kali ini dengan sprei tempat tidurnya. Dia gulung, termasuk juga serpihan otak yang berhamburan di sekitar tempat dia bunuh istrinya itu. Setelah membungkus tubuh Shinta, kembali dia lemparkan mayat itu ke tempat sampah yang ada di sebelah rumah.

Lagilagi Arka membersihkan ceceran darah yang ada di lantai. Dia sendiri berpikir kenapa juga harus membersihkan noda darah ini? Tapi tetap ia harus lakukan biar tak ada jejak darah yang membuat tamu yang sewaktuwaktu datang ke rumahnya jadi curiga. Arka lega setelah semuanya bersih. Keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya. Benarbenar hal ini membuatnya ketakutan, ia tak percaya. Mana mungkin ada tiga Shinta?

Nafas Arka makin memburu. Ia stress, stress berat. Joni kemana? Belum datang dari tadi. Dia pun menelpon Joni sekali lagi.

Kamu di mana? tanya Arka.

Macet bos, mana hujan lagi, jawab Joni.

Arka langsung menutup teleponnya. Dasar Joni, dia mengutuk Joni. Menurutnya Joni sudah tak bisa diharapkan lagi.

Arka duduk di ruang tamu sambil menghabiskan rokok. Tangannya gemetaran, bukan gemetar biasa. Waktu serasa melambat. Satusatunya yang bisa menenangkannya sekarang ini adalah rokok. Mungkin Gina melihat dia dari kamera CCTV yang sekarang ini sudah terpasang di hampir seluruh sudut ruangan ini. Gina pasti melihat dia membunuh Shinta berkalikali, tak mungkin dia tidak melihatnya. Arka pun menelponnya.

Halo, Gina? Arka langsung memanggilnya.

Tapi malah suara voice mail. Bedebah, katanya dalam hati. Kenapa ini? Arka berkalikali menelpon Kak Gina. Tapi tetap tak ada jawaban. Arka mulai linglung sekarang. Dia ingin berjaga, terus terjaga kalaukalau ada Shinta yang lain datang. Pintunya harus dikunci, kemudian ia mengunci pintunya dari dalam. Setelah yakin tak ada satupun pintu yang terbuka bahkan juga jendela ia pun duduk di sofa lagi. Dia menunggu, menunggu dan menunggu. Apakah akan ada kejutan lagi? Dari mana datangnya Shinta itu? Dari mana?

Arka terus terjaga, bahkan dia membuat kopi sangat kental. Dia terus bertanyatanya di mana dari mana datangnya Shinta. Kopi dua cangkir sudah ia buat dan sudah dia habiskan. Tapi tetap saja tak ada tandatanda kemunculan Shinta.

Sudah satu jam dia menunggu. Sepertinya memang tidak akan muncul istrinya itu. Dia sudah membunuh istrinya. Ia pun bernafas lega.

Sayang?! panggil sebuah suara. Juga sebuah tangan yang menepuk pundaknya. Tangan yang sangat halus, sebuah cincin di jari manis melingkar di tangan itu. Arka kini tambah ketakutan. Keringat dingin mengucur di dahinya.

Arka menoleh ke belakang. Tampak wajah khas Shinta yang ramah, cantik menyapanya dengan senyuman.

D..dd..dari mana kamu? tanya Arka gugup.

Apaan sih? Dari tadi ya di kamar. Habis main tadi aku ketiduran. Trus mandi habis itu tidur lagi, males ngantor hari ini. Kamu kapan pulang? Gimana keadaan Kak Gina? tanya Shinta.

Arka memegang kepalanya yang serasa mau pecah.

Kamukamu harusnya sudah mati! Kamu sudah mati! jerit Arka.

Sayang, apa sih yang kamu katakan? Aku masih hidup. Nih lihat sentuh! Shinta merebut tangan Arka dan disentuhkan ke buah dadanya. Nah, masih empuk kan? Masih kerasa kenyalkan?

Arka segera menarik tangannya. Ia tak percaya. Ia tak percaya terhadap apa yang dia sentuh. Arka sampai terjatuh dari sofa hingga membuat cangkir kopi yang ia letakkan di meja tadi tumpah. Di meja juga tampak coklat yang tadi dibelikan oleh Shinta masih ada di sana. Jadi apa yang ia lihat tadi bukan mimpi, apa yang ia rasakan bukan mimpi. Tapi ini semua tidak masuk akal.

Dengan cepat Arka pun segera menerjang ke arah Shinta. Shinta kaget ketika Arka mencengkeram lehernya. Arka mencekik istrinya. Shinta meronta, mencoba melepaskan diri.

Sayangapa yang khhkhammu.lakukkkhhhaan!? Shinta terus meronta ketika kedua tangan Arka mencekiknya.

Arka kalut, ia benarbenar gila, gila karena tak percaya ia sudah membunuh istrinya untuk ketiga kalinya tapi masih hidup lagi, hidup lagi. Dan kini istrinya ada di depan matanya lagi dengan seolaholah tak pernah terjadi apaapa kepadanya.

Tangan Arka sangat kuat mencengkeram hingga akhirnya kepalanya dipukul. BUAK! Sebuah pukulan menghantam kepalanya. Arka terjerembab di lantai. Tampak Gina sedang terengahengah memegang bat baseball. Kepala Arka remuk. BUAK! BUAK! BUAK! Gina berkalikali memukul kepala Arka hingga Arka tidak bernyawa lagi.

Setelah itu ia lempar bat baseball itu dan menolong Shinta.

Kamu tak apaapa sayang? tanya Gina.

Tak apaapa, aku tak apaapa! kata Shinta.

Gina mencium bibir Shinta. Mereka berpelukan. Shinta meringkuk di dada Gina sekarang.

Kamu aman Shinta, kamu aman, kata Gina.

Tapi, ini sudah ketiga kalinya aku membunuh Arka, Kak, kata Shinta.

Sudahlah, ayo kita bereskan mayatnya! kata Gina.

Mereka berdua pun segera bahu membahu menggeret tubuh Arka yang sudah tidak berdaya lagi. Garis darah membekas di tempat tubuh Arka diseret. Kemudian kedua wanita ini melemparkan tubuh Arka ke tempat sampah. Di tempat sampah itu tampak ada tiga mayat lagi. Mayat Arka yang tergeletak dengan berbagai macam luka.

Gina dan Shinta segera masuk ke dalam rumah membersihkan apa yang baru saja mereka lakukan.

Shinta, I love you, Gina memeluk Shinta dengan erat.

Aku juga kak, ngomongngomong bukankah hari ini valentine? tanya Shinta.

Iya benar. Selamat hari valentine sayangku, Gina kembali mencium bibir Shinta.

Post Terkait